Komisi II Tindak Lanjuti Nasib 40 Siswa Yang Terambang di Jakarta
AMBON, Cahayalensa.com- Komisi II (dua) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ambon menindaklanjuti nasib 40 orang siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terambang di Jakarta.
"Sangat disayangkan, orang tua dari 40 orang siswa ini ingin anaknya kembali pulang ke Ambon, karena perkembangan Covid-19 yang membahayakan," akui Ketua Komisi II DPRD Kota Ambon, Jafry Taihuttu kepada media di Balai Rakyat, Belakang Soya, Rabu (6/5/2020).
Ia mengakui, selama 2 tahun ini tidak ada koordinasi yang dibangun oleh Dinas Pendidikan Kota Ambon bersama orang tua wali. Padahal, koordinasi ini sangat dibutuhkan setiap orang tua yang anaknya diberikan beasiswa untuk bersekolah pada sekolah Jenius di Yayasan Surya Institute guna kepentingan Pemerintah Kota Ambon nantinya.
"Pada gelombang pertama (tahun pertama) masih sempat ada komunikasi dengan koorsinator yang dipercayakan untuk mengurus seluruh anak, namun gelombong kedua tidak ada koordinasi sama sekali. Dan orang yang dipercayakan yakni pak Edwin hilang komunikasi dengan orang tua wali," jelasnya.
Untuk itu, Ia meminta Dinas Pendidikan Kota Ambon mengkonfirmasi kondisi terakhir dari siswa-siswa tersebut. "Hal ini diperlukan dan penting karena orang tua wali sangat khawatir dengan pandemi Covid-19," paparnya.
Ia menegaskan , kalau tidak ada konfirmasi dari dinas pendidikan maka pulangkan saja seluruh anak -anak.
Pasalnya, dalam kondisi pandemi Covis-19, masih ada proses belajar di sekolah, dan juga waktu untuk berkomunikasi sama orang tua wali hanya 2 jam.
Selain itu, ada anak-anak yang tinggal di hotel dengan alasan dekat dengan sekolah, ada pula yang tinggal di klater perumahan tapi ada pemukimannya.
"Kondisi seperti ini membuat kekhwatiran dari orang tua wali sangat tinggi, sehingga minta anaknya dipulangkan," cetusnya.
Menurutnya, meraka yang menjadi perwakilan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah, otomatis pulangkan saja. Usai Covid-19 baru balik, sehingga tidak ada masalah.
"Ini masalah, karena 2 anak sudah pulang karena langsung dijemput orang tuanya, sisa 38 harus pulang," tandasnya. (CL-03).
"Sangat disayangkan, orang tua dari 40 orang siswa ini ingin anaknya kembali pulang ke Ambon, karena perkembangan Covid-19 yang membahayakan," akui Ketua Komisi II DPRD Kota Ambon, Jafry Taihuttu kepada media di Balai Rakyat, Belakang Soya, Rabu (6/5/2020).
Ia mengakui, selama 2 tahun ini tidak ada koordinasi yang dibangun oleh Dinas Pendidikan Kota Ambon bersama orang tua wali. Padahal, koordinasi ini sangat dibutuhkan setiap orang tua yang anaknya diberikan beasiswa untuk bersekolah pada sekolah Jenius di Yayasan Surya Institute guna kepentingan Pemerintah Kota Ambon nantinya.
"Pada gelombang pertama (tahun pertama) masih sempat ada komunikasi dengan koorsinator yang dipercayakan untuk mengurus seluruh anak, namun gelombong kedua tidak ada koordinasi sama sekali. Dan orang yang dipercayakan yakni pak Edwin hilang komunikasi dengan orang tua wali," jelasnya.
Untuk itu, Ia meminta Dinas Pendidikan Kota Ambon mengkonfirmasi kondisi terakhir dari siswa-siswa tersebut. "Hal ini diperlukan dan penting karena orang tua wali sangat khawatir dengan pandemi Covid-19," paparnya.
Ia menegaskan , kalau tidak ada konfirmasi dari dinas pendidikan maka pulangkan saja seluruh anak -anak.
Pasalnya, dalam kondisi pandemi Covis-19, masih ada proses belajar di sekolah, dan juga waktu untuk berkomunikasi sama orang tua wali hanya 2 jam.
Selain itu, ada anak-anak yang tinggal di hotel dengan alasan dekat dengan sekolah, ada pula yang tinggal di klater perumahan tapi ada pemukimannya.
"Kondisi seperti ini membuat kekhwatiran dari orang tua wali sangat tinggi, sehingga minta anaknya dipulangkan," cetusnya.
Menurutnya, meraka yang menjadi perwakilan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah, otomatis pulangkan saja. Usai Covid-19 baru balik, sehingga tidak ada masalah.
"Ini masalah, karena 2 anak sudah pulang karena langsung dijemput orang tuanya, sisa 38 harus pulang," tandasnya. (CL-03).


Tidak ada komentar