TRANSPERSONAL CARING; WUJUD PEREMPUAN BERSYUKUR DAN PEMBAWA DAMAI
Ns. CHRISTY N M HITIJAHUBESSY, M.Kep.,Sp.Kep.Mat
DOSEN POLTEKKES KEMENKES MALUKU
Krisis kematian ibu di dunia masih menjadi trend issue saat ini. World Health Organization (WHO) mencatat secara global terjadi penurunan angka kematian ibu sebesar 34%. Meskipun demikian dibeberapa Negara masih ditemui peningkatan angka kematian ibu hingga tahun 2022, 95% diantaranya berada pada negara-negara berpenghasilan menengah kebawah, salah satunya Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan RI AKI di Indonesia tahun 2022 yaitu 183 per 100.000 kelahiran hidup, masih sangat tinggi dibandingkan negara tetangga Malaysia yang hanya 20/100.000 kelahiran hidup. Menurut Badan Pusat Statistik, Provinsi Maluku menempati urutan ketiga setelah Papua dan Papua Barat dengan angka kematian Ibu paling tinggi yaitu sebanyak 264 tahun 2022. Kondisi ini dipengaruhi beberapa faktor diantaranya usia resiko tinggi bagi seorang perempuan untuk hamil yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun, penyakit infeksi yang dialami ibu, perdarahan, komplikasi kehamilan, serta aborsi yang tidak aman sebagai akibat dari kehamilan yang tidak diinginkan. Kondisi ini dapat terjadi karena minimnya informasi kesehatan yang diterima secara merata, kurangnya kemampuan perempuan untuk memaknai kualitas perawatan diri secara tepat, keterbatasan akses ke palayanan kesehatan, nilai-nilai budaya yang menempatkan perempuan pada posisi yang lemah, norma dan atau ketidaksetaraan gender yang berdampak pada penekanan hak-hak reproduksi perempuan serta faktor eksternal lainnya yang berdampak pada kualitas hidup perempuan.
Wadah Pelayanan Perempuan Gereja Protestan Maluku yang merupakan rumah bagi perempuan Gereja di Wilayah Maluku dan Maluku Utara yang terkenal dengan gugus pulau, tentunya masih bergumul dengan dilema yang menimpah kaum perempuan gereja negeri seribu pulau ini. GPM mencatat, tidak sedikit pendeta perempuan yang meninggal ditempat-tempat pengabdian mereka karena keterbatasan akses pelayanan kesehatan, masih banyak perempuan GPM yang berjuang untuk melahirkan anaknya sendiri karena keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan di wilayah pulau-pulau terpencil, masih banyak perempuan GPM yang terlambat mengambil keputusan untuk perawatan kesehatan sekalipun informasi sudah diterima dengan jelas, masih banyak perempuan GPM yang tidak berdaya untuk melawan adanya kekerasan dalam rumah tangga, masih banyak perempuan GPM yang menjadi korban kekerasan seksual serta masih banyak perempuan GPM yang tidak kuasa melawan nilai-nilai budaya yang berdampak pada penurunan kulitas hidup perempuan.
Menyikapi kompleksitas permasalahan yang masih menjadi pergumulan kaum perempuan, TRANSPERSONAL CARING dapat dijadikan dasar perempuan GPM untuk bangkit. Dengan kesadaran diri bahwa perempuan menjadi satu-satunya kekuatan dalam keluarga yakni sebagai istri dan mama bagi anak-anak, sangatlah penting untuk peduli terhadap perawatan kesehatan dirinya juga keluarga dan sesama. Jean Watson adalah tokoh perempuan yang terkenal dengan konsep teori Transpersonal Caring sejak tahun 1940 hingga saat ini. Lebih jelas Watson melandaskan teorinya pada sepuluh factor karatif dan interpretasi caritas antara lain; 1) membentuk system nilai humanistic yang diartikan sebagai kepuasan yang diperoleh dengan memberi dana memperluas dimensi diri; 2) membangkitkan keyakinan dan harapan, hal ini menggambarkan hubungan antar individu dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan; 3) menanamkan kepekaan terhadap diri dan orang lain, bertujuan untuk meningkatkan kepekaan terhadap orang lain serta membantunya mencapai aktualisasi diri; 4) hubungan saling membantu dan rasa percaya; 5) meningkatkan pemikiran positif serta kemapuan untuk mengubah energi negative dalam diri menjadi lebih baik; 6) Mencari solusi pemecahan masalah secara tepat; 7) Meningkatkan pengetahuan melalui proses belajar; 8) Beradaptasi dengan lingkunga, fisik, psikologis, social budaya dan spiritual yang mendukung; 9) Membantu pemenuhan kebutuhan manusia; serta 10) Membagi pengalaman yang dapat memicu pemikiran diri dan orang lain tentang kesehatan. Konsep ini disampaikan Watson dengan asumsi bahwa manusia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri tetapi hidupnya berdampingan dengan orang lain, dan bahwa hidup merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara tubuh, pikiran dan jiwa.
Perempuan GPM dihari ulang tahunnya ke 55, yang mengusung Tema: Perempuan yang Bersyukur dan Pembawa Damai mengisyaratkan bahwa perempuan harus mampu menjadi pendamai melalui kualitas diri yang lebih baik, peduli terhadap kesehatan dan kebahagiaan dirinya dan keluarganya serta menjadi sosok yang peduli (care) terhadap kehidupan sesama di lingkungan sekitar.
DIRGAHAYU WADAH PELAYANAN PEREMPUAN GPM KE-55 (5 MEI 2023)


Tidak ada komentar