Tambang Pada Dinamika Perekonomian Maluku
“Peningkatan Aktivitas Pertambangan memberikan dampak pada perekonomian Provinsi Maluku”
Peningkatan intensitas kegiatan pertambangan secara signifikan memperlihatkan dampak penting sektor pertambangan terhadap perekonomian, baik di tingkat global maupun nasional.
Menariknya, terjadi seiring dengan tekad pemerintah yang semakin meningkat dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, di mana baterai kendaraan tersebut bersumber dari aktivitas pertambangan nikel.
Tidak hanya nikel, berbagai produk tambang domestik lainnya seperti batu bara, emas, dan bijih besi juga menarik minat investor global.
Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan pasar global terhadap produk-produk tambang tersebut dan potensinya untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir, provinsi-provinsi yang memiliki sumber daya pertambangan telah menjadi primadona dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Maluku merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi yang sangat besar untuk komoditi tambang.
Aktivitas pertambangan di wilayah ini telah banyak dilakukan sejak awal tahun 2011.
Meskipun begitu, sejak munculnya aktivitas pertambangan illegal, terutama dalam bentuk pertambangan emas di daerah Gunung Botak Pulau Buru, telah memberikan dampak yang signifikan.
Aktivitas ini tidak hanya memengaruhi perekonomian masyarakat sekitar, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi dan lingkungan yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, kegiatan pertambangan tembaga di Provinsi Maluku khususnya pada Kabupaten Maluku Barat Daya sudah dimulai sejak tahun 2014, memiliki sejarah panjang yang tercatat.
Sejak tahun 2018, aktivitas pertambangan ini telah dikelola oleh PT. Batutua Tembaga Raya (BTP) dan PT. Batutua Kharisma Permai (BKP) di bawah naungan Merdeka Copper Gold.
Lokasinya terletak di Desa Lurang, Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya Provinsi Maluku.
Perusahaan ini menjalankan kegiatan pertambangan yang mencakup 1,07 persen dari luas Pulau Wetar, atau sekitar 2.733 hektar dari total area operasional perusahaan yang mencapai 262.235 hektar di Pulau Wetar.
Dampak positif dari kegiatan pertambangan ini dirasakan terutama oleh perekonomian masyarakat di sekitar tambang, khususnya di Desa Lurang dan Desa Uhak.
Batutua Tembaga Raya dan PT. Batutua Kharisma Permai (BTP-BKP) tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ekonomi, tetapi juga turut memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat.
Perusahaan ini menyediakan kebutuhan listrik dan air bersih untuk 263 kepala keluarga di Desa Lurang dan 98 kepala keluarga di Desa Uhak (sumber: https://merdekacoppergold.com).
Selain itu, dampak kegiatan tambang untuk masyarakat Pulau Wetar khususnya masyarakat yang berada pada wilayah lingkar tambang adalah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Perusahaan BTP-BKP membuka peluang untuk memberi pekerjaan pada lebih dari 65 persen dan sebagai pemasok lokal untuk kebutuhan operasional.
Selain berdampak ke perekonomian warga yang berada di Pulau Wetar, dampak perusahaan juga memberikan dampak kepada perekonomian Kabupaten Maluku Barat Daya secara khusus dan Provinsi Maluku secara umum.
Dalam perspektif Pendekatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha, dapat diidentifikasi bahwa kegiatan ekonomi yang dihasilkan oleh kedua perusahaan tersebut terkategori dalam sektor Pertambangan Bijih Logam dan Industri Logam Dasar.
Menurut data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku, terlihat bahwa kontribusi ekonomi yang berasal dari aktivitas perusahaan ini mengalami peningkatan signifikan.
Pada tahun 2021, porsi Industri Pengolahan dari total PDRB mencapai 4,95 persen.
Namun, pada triwulan III tahun 2023, terjadi peningkatan yang cukup mencolok, di mana kontribusi ekonomi dari sektor Industri Pengolahan meningkat menjadi 6,16 persen.
Peningkatan ini mencerminkan pertumbuhan positif dalam kontribusi sektor industri tertentu terhadap ekonomi regional selama periode tersebut.
Peningkatan porsi ini dapat diartikan sebagai indikasi bahwa kegiatan ekonomi yang terkait dengan Pertambangan Biji Logam dan Industri Logam Dasar, yang diwakili oleh kedua perusahaan tersebut, memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional.
Selain itu, pengaruh dari kegiatan pertambangan tembaga pada triwulan III 2023 memicu pertumbuhan ekonomi yang signifikan pada sektor industri pengolahan mencapai 30,42 persen, jika dibandingkan dengan triwulan III 2022 dan implikasinya pada pertumbuhan ekonomi Maluku yang mencapai 5,69 persen.
Pergerakan produksi tambang akan sangat mempengaruhi kinerja perekonomian di Maluku, hal ini dikarenakan produksinya digunakan sebagai bahan baku dalam industri pengolahan khususnya industri logam dasar atau kegiatan Electrowinning.
Industri logam dasar sendiri mampu memberikan kontribusi lapangan industri pengolahan Maluku sebesar 22,67 persen.
Dampak Kedepan
Dampak yang akan muncul akibat perkembangan kegiatan pertambangan di Provinsi Maluku harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat sekitar.
Langkah-langkah mitigasi perubahan yang signifikan perlu diambil untuk memastikan bahwa dampak tersebut dapat dikelola dengan baik.
Salah satu dampak positif yang akan terjadi di masa depan adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi yang akan dirasakan oleh masyarakat dan wilayah setempat.
Kegiatan pertambangan diharapkan memberikan peluang pekerjaan bagi penduduk setempat, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Selain itu, penyediaan listrik dan air bersih langsung dari perusahaan dapat memberikan dampak positif terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.
Dampak positif juga dapat terlihat dari peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi regional.
Peningkatan kontribusi dari sektor-sektor ini dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang positif di tingkat regional.
Di sisi lain, perlu diwaspadai adanya dampak negatif yang mungkin muncul di masa depan, terutama terkait dengan lingkungan.
Jika aktivitas pertambangan tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan dampak yang merugikan pada ekosistem dan lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi yang efektif seperti pengelolaan limbah dan pengawasan terhadap aktivitas ilegal, perlu menjadi prioritas.
Pentingnya pembangunan berkelanjutan dalam sektor pertambangan menjadi kunci untuk memastikan bahwa manfaat jangka panjang dapat dinikmati oleh masyarakat lokal, sambil secara efektif meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah dan perusahaan menjadi krusial untuk mencapai keseimbangan yang sehat antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
Dengan demikian, langkah-langkah ini harus diterapkan secara bersama-sama untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan di Provinsi Maluku.
Oleh : Jefri Tipka, S.Si, M.Si; Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Maluku.



Tidak ada komentar