Kadispabud Ambon: Banyak Event Lahir dari Komunitas, Pemkot Berperan Fasilitator dan Promosi
Ambon,CahayaLensa.com– Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon, Christian Tukloy, S.Pi., menegaskan bahwa tidak semua event yang berlangsung di Kota Ambon diselenggarakan langsung oleh Pemerintah Kota maupun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Sebaliknya, banyak kegiatan justru lahir dari inisiatif komunitas, sementara pemerintah hadir sebagai fasilitator dan pendukung promosi.
Hal ini disampaikan Tukloy saat diwawancarai di sela-sela kegiatan Gala Beat Fest yang berlangsung di Ruang Terbuka Publik Desa Galala, Sabtu (31/1/2026).
“Penyelenggaraan event itu belum tentu semuanya diinformasikan ke Dinas Pariwisata. Seperti Festival Majapahit misalnya, rencana kegiatannya ada, tetapi dari penyelenggara belum menyampaikan secara resmi kepada kami,” jelas Tukloy.
Menurutnya, kalender event pariwisata Kota Ambon disusun sebagai alat bantu promosi dan koordinasi, bukan sebagai bentuk pengambilalihan kegiatan yang digagas komunitas. Pemerintah justru mendorong semakin banyak komunitas yang berinisiatif menggelar event seni, budaya, dan kreativitas.
“Event itu bukan hanya yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata atau Pemerintah Kota. Banyak event diselenggarakan oleh komunitas. Tugas kami adalah membantu mempromosikan event-event tersebut melalui kalender event,” ujarnya.
Tukloy mencontohkan sejumlah agenda komunitas yang hingga kini masih menunggu kepastian waktu dari penyelenggara, seperti LGJI, yang belum dikonfirmasi secara resmi kepada AMGPM Kota Ambon.
“Kami juga tidak bisa memaksakan jadwal. Contohnya LGJI, sampai sekarang belum ada konfirmasi agenda, sehingga belum bisa kami masukkan secara pasti,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan event tidak bisa dipaksakan harus berlangsung setiap bulan. Penentuan waktu sangat bergantung pada kesiapan komunitas, kalender keagamaan, serta momentum sosial masyarakat.
“Memang tidak bisa setiap bulan harus ada event. Ada bulan-bulan yang padat, ada juga yang kosong, dan itu hal yang wajar,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tukloy mengungkapkan bahwa pada Februari 2026, Pemerintah Kota Ambon justru melaksanakan dua event sekaligus, karena waktu pelaksanaannya tidak memungkinkan dipindahkan ke bulan Maret. Salah satunya berkaitan dengan perayaan Gong Xi Fa Cai.
“Februari ini ada dua event sekaligus karena memang tidak bisa dipindahkan ke Maret, terutama yang terkait dengan Gong Xi Fa Cai,” ungkapnya.
Selain itu, Festival Ramadhan juga diupayakan untuk digelar sebelum memasuki bulan suci atau paling lambat pada akhir Februari. Hal ini mempertimbangkan mobilitas masyarakat yang biasanya meningkat menjelang dan selama bulan Ramadhan.
“Event harus sudah berjalan sebelum masyarakat pulang ke kampung halaman. Kalau dipaksakan ke Maret, masyarakat sudah berkurang, tinggal warga lokal saja,” katanya.
Menurut Tukloy, penyesuaian waktu pelaksanaan event merupakan strategi agar dampak ekonomi dan sosial dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan sektor jasa pendukung pariwisata.
“Kami ingin event-event ini benar-benar berdampak, bukan sekadar terlaksana. Karena itu, penentuan waktu menjadi sangat penting,” pungkasnya.
Pemerintah Kota Ambon, lanjut Tukloy, tetap berkomitmen membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan komunitas kreatif, sejalan dengan visi Ambon sebagai City of Music dan kota berbasis ekonomi kreatif.


Tidak ada komentar