Jauh Dari Tanah Rantau, Pulang Rayakan 1 Abad Jemaat Gatik
AMBON, CahayaLensa.com – Sejauh apa pun kaki melangkah dan selama apa pun hidup di tanah rantau, kampung halaman selalu memiliki tempat tersendiri di dalam hati.
Itulah yang terasa dalam suasana Penjemputan Basudara dan Pembukaan Acara 1 Abad Jemaat Galala-Hative Kecil, Minggu (30/8/2026).
Anak cucu dan basudara datang dari berbagai penjuru untuk kembali berkumpul di tanah leluhur. Ada yang datang dari Belanda, Jakarta, Sorong, Makassar, Masohi, Saparua, Maluku Tengah, Galala, Halong serta daerah lainnya.
Mereka hadir untuk merajut kembali kenangan, mempererat persaudaraan dan bersama-sama menyongsong perjalanan besar 100 tahun Jemaat Galala-Hative Kecil.
Perayaan satu abad tersebut mengusung tema, “Mengukuhkan Warisan Iman, Persatuan, dan Pelayanan Lintas Generasi untuk Kemuliaan Tuhan.”
Selendang Penyambutan dan Kain Gandong
Rangkaian kegiatan berlangsung mulai dari kawasan Ayala dan Jembatan Galala Lama hingga Gedung Gereja Imanuel Galala-Hative Kecil.
Basudara yang datang dari berbagai daerah disambut dengan penuh kehangatan melalui prosesi pengalungan selendang.
Satu per satu Bapak dan Ibu yang pulang dari tanah rantau menerima selendang sebagai tanda penghormatan sekaligus ungkapan selamat datang kembali di kampung halaman.
Setelah prosesi tersebut, rombongan kemudian melakukan arak-arakan dari Jembatan Galala Lama menuju Gedung Gereja Imanuel.
Kain gandong yang digunakan dalam penyambutan menjadi simbol kuatnya ikatan persaudaraan masyarakat Galala-Hative Kecil.
Langkah demi langkah menuju gereja seakan menjadi perjalanan mengenang masa lalu, ketika orang-orang tua membangun kehidupan bersama dan menanamkan nilai persaudaraan kepada anak cucu.
Kepala Desa Galala, Jemima Ariesta Marcella Joris, mengaku sangat terharu melihat anak cucu dan basudara yang datang dari berbagai daerah dan bahkan luar negeri.
“Atas nama Pemerintah Desa Galala dan masyarakat Negeri Hative Kecil, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh anak cucu, orang tatua serta basudara gandong yang datang dari berbagai daerah, baik dari Belanda, Sorong, Makassar, Jakarta, Saparua, Maluku Tengah maupun daerah lainnya,” ujar Joris.
Menurutnya, perjumpaan tersebut bukan terjadi karena kehebatan manusia, tetapi karena kasih dan anugerah Tuhan Yesus Kristus.
“Kita semua boleh berkumpul bersama di Galala dan Hative Kecil pada hari ini bukan karena siapa-siapa, tetapi semata-mata karena kasih dan anugerah Tuhan Yesus Kristus,” katanya.
Joris mengaku kehadiran basudara dari tanah rantau memberikan kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di Galala dan Hative Kecil.
Bahkan, ia tidak mampu menyembunyikan rasa harunya.
“Saya sungguh terharu, bahkan sampai meneteskan air mata, melihat Bapak, Ibu dan seluruh basudara yang dengan sukarela dan penuh sukacita datang untuk mengunjungi kami di Galala dan Hative Kecil,” ungkapnya.
Warisan Orang Tatua Selama 100 Tahun
Menurut Joris, peringatan satu abad bukan sekadar perayaan perjalanan waktu.
Seratus tahun merupakan sebuah perjalanan panjang yang menyimpan sejarah, perjuangan, iman dan kebersamaan masyarakat Galala-Hative Kecil.
“Seratus tahun bukanlah waktu yang singkat. Seratus tahun lalu, para orang tua dan leluhur kita telah meletakkan dasar yang kuat bagi kehidupan masyarakat Galala dan Hative Kecil,” ujarnya.
Dasar yang diwariskan oleh para leluhur tersebut, kata dia, adalah kebersamaan, persaudaraan dan rasa saling memiliki.Nilai itu masih dapat dirasakan hingga generasi saat ini.
“Apa yang telah ditanamkan oleh orang tatua kita 100 tahun lalu, hingga hari ini masih kita rasakan. Karena itu, sebagai anak cucu, kita patut bersyukur karena masih dapat bersama-sama berada dalam momentum peringatan satu abad ini,” katanya.
Bagi basudara yang pulang dari rantau, Galala dan Hative Kecil bukan hanya sebuah tempat.
Di sana tersimpan kenangan masa kecil.
Tentang makan bersama, bermain bersama dan tumbuh bersama dalam lingkungan yang penuh persaudaraan.
“Di tempat inilah dahulu kita makan bersama, bermain bersama dan menikmati kehidupan bersama. Kita hidup dan bertumbuh dari tanah Galala dan Hative Kecil, bahkan menikmati air yang sama dari negeri ini,” tutur Joris.
Ia mengingatkan, walaupun anak cucu telah merantau ke berbagai kota dan negara, mereka tidak boleh melupakan kampung halaman.
“Sejauh apa pun kita pergi, kita tidak boleh melupakan dari mana kita berasal,” tegasnya.
Momentum satu abad, menurut Joris, harus menjadi pengingat tentang besarnya warisan kebersamaan yang telah ditanamkan para leluhur.
Baik berada di Belanda, Jakarta, Sorong, Makassar, Maluku Tengah, Manado maupun daerah lainnya, ikatan persaudaraan harus terus dijaga.
“Rumah kita adalah Galala dan Hative Kecil. Rumah ini adalah rumah bersama yang harus kita jaga,” katanya.
Ia mengajak seluruh anak cucu untuk terus bergandengan tangan, menjaga persaudaraan serta memperkuat kebersamaan bagi generasi yang akan datang.
Setibanya di depan Gedung Gereja Imanuel, rombongan kembali mendapat sambutan dari Ketua Majelis Jemaat GPM Galala-Hative Kecil,Pdt.Ny.A.Hanoatubun,sebelum bersama-sama memasuki rumah Tuhan.
Dalam sambutannya, Ketua Majelis Jemaat menyampaikan rasa syukur dan sukacita atas kedatangan basudara dari berbagai daerah.
“Kita menyambut basudara dari Belanda, Maluku Tengah, Sorong, Makassar, Jakarta dan dari semua tempat yang datang hari ini untuk merayakan satu abad Galala-Hative Kecil dengan rasa syukur dan sukacita,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh basudara untuk memasuki rumah Tuhan dan bersama-sama bersyukur atas perjumpaan yang telah dianugerahkan.
“Atas nama Majelis Jemaat, para pelayan dan seluruh umat Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak, Ibu dan basudara yang datang dari tanah rantau,” katanya.
Menurutnya, perjumpaan dalam persaudaraan selalu membawa berkat dari Tuhan.
Ia mengutip pesan dalam Mazmur 133 tentang indahnya kehidupan dalam persaudaraan dan kebersamaan.
“Tidak ada perjumpaan dalam persaudaraan yang tidak membawa berkat Tuhan. Ketika kita berkumpul dalam kebersamaan, Tuhan tidak sekadar memberi, tetapi memberitakan berkat dan kehidupan,” ungkapnya.
Karena itu, seluruh basudara diharapkan dapat terlibat dalam seluruh rangkaian perayaan satu abad Jemaat Galala-Hative Kecil.
Perayaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat warisan iman, persatuan dan pelayanan lintas generasi.
Di tengah perjalanan hidup yang membawa anak cucu Galala-Hative Kecil ke berbagai penjuru dunia, perjumpaan itu kembali mengingatkan bahwa ada satu tempat yang tidak boleh dilupakan.
Sejauh apa pun merantau, selalu ada rumah untuk pulang. Dan rumah itu adalah Galala-Hative Kecil.


Tidak ada komentar