Breaking News

Sambut HUT ke-451 Ambon, ICMI, IMM dan PT DSA Tanam 1.000 Pohon di Wairuhu


Ambon, CahayaLensa.com - Menjelang Hari Ulang Tahun ke-451 Kota Ambon, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah Kota Ambon bersama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Ambon dan PT Dream Sukses Airindo (DSA) menggelar aksi penanaman 1.000 pohon di kawasan Wairuhu-Air Besar, Kecamatan Sirimau, Sabtu, (29/08/2026)

Kegiatan bertajuk “Mari Batanam Pohon, Jaga Katong Pung Hutan Deng Sungai Par Ambon Pung Bae” itu menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kawasan resapan air, mencegah erosi, serta melindungi keberlanjutan sumber air bersih bagi masyarakat Kota Ambon.

Penanaman pohon dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, Apries Gaspersz, yang hadir mewakili Walikota Ambon Bodewin Wattimena.

Kegiatan tersebut dihadiri pengurus ICMI dan IMM Kota Ambon, jajaran PT DSA, unsur pemerintah, serta masyarakat setempat. Usai seremoni pembukaan, dilakukan penyerahan bibit pohon matoa kepada Pemerintah Kota Ambon, yang dilanjutkan dengan penanaman pohon bersama.

Ketua Panitia, Ikbal Kaplale, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda menyambut HUT Kota Ambon, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan dan ancaman perubahan iklim.

Menurut dia, sejumlah data menunjukkan perlunya langkah antisipasi untuk menjaga kawasan hutan dan sumber-sumber air di Ambon. Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya kerawanan kebakaran, kawasan resapan air harus mendapat perhatian serius.

Ia mencontohkan sejumlah kejadian kebakaran yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di kawasan Ambon, termasuk di sekitar Wairuhu dan Air Besar.

“Kalau hutan terus terbakar dan ditebang, maka fungsi hutan sebagai daerah tangkapan dan resapan air tidak akan berjalan dengan baik,” kata Ikbal.

Menurut dia, lemahnya daya serap tanah menyebabkan air hujan lebih cepat mengalir ke laut. Akibatnya, cadangan air tanah berkurang dan masyarakat berpotensi menghadapi persoalan ketersediaan air bersih pada musim kemarau.

Karena itu, ia berharap kegiatan reboisasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menjaga lingkungan bagi generasi mendatang.

“Kalau hari ini kita tidak menjaga kawasan hutan, maka yang akan diwarisi generasi berikutnya adalah persoalan lingkungan,” ujarnya.

Ketua IMM Kota Ambon, M. Basir Tuapali, mengatakan usia ke-451 Kota Ambon harus menjadi momentum untuk memperkuat tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlanjutan kota.

Menurut dia, pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, tetapi juga harus dibarengi dengan pembangunan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

“Gedung dan infrastruktur bisa terus dibangun. Tetapi kalau pola pikir dan kesadaran masyarakat tidak berubah, persoalan lingkungan akan terus berulang,” kata Basir.

Ia menyoroti kondisi sejumlah sungai di Ambon yang mulai mengalami tekanan akibat berkurangnya kawasan resapan, aktivitas pembangunan di sekitar bantaran sungai, hingga rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan.

Basir mengingatkan bahwa air merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, menjaga sungai dan kawasan hulu menjadi bagian penting dalam menjamin keberlanjutan kehidupan masyarakat Kota Ambon.

Ia berharap pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dapat bersama-sama membangun kesadaran kolektif untuk melindungi sumber air.

“Kalau kesadaran masyarakat tidak dibangun, maka berbagai fasilitas dan infrastruktur yang disiapkan tidak akan memberikan hasil maksimal,” katanya.

Direktur PT DSA, Jefri Riri, mengatakan perusahaan memiliki kepentingan besar dalam menjaga kelestarian sumber air karena pelayanan air bersih kepada masyarakat sangat bergantung pada kondisi lingkungan, khususnya kawasan hulu dan daerah tangkapan air.

PT DSA, kata dia, saat ini melayani sekitar 11 ribu pelanggan di Kota Ambon. Karena itu, keberadaan sungai dan kawasan resapan yang tetap terjaga menjadi faktor penting dalam menjamin distribusi air bersih secara berkelanjutan.

“Kalau daerah resapan air habis, maka air yang mengalir ke hilir akan semakin berkurang, bahkan dapat habis secara alamiah,” ujar Jefri.

Menurut dia, kegiatan penanaman 1.000 pohon merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk menjaga lingkungan sekaligus melindungi keberlanjutan sumber air.

“Ini bukan sekadar agenda penanaman pohon. Ini adalah pernyataan komitmen untuk menjaga lingkungan, menjaga sumber air, dan memastikan pelayanan air bagi masyarakat Kota Ambon dapat berlangsung secara berkelanjutan,” katanya.

Jefri menjelaskan, karakter geografis Kota Ambon menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan lingkungan. Dengan wilayah daratan yang relatif terbatas dan sebagian besar memiliki kontur bergelombang hingga terjal, pembangunan perkotaan harus tetap memperhatikan keberadaan kawasan hijau dan daerah tangkapan air.

Menurut dia, pembangunan kota harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kemampuan alam dalam menyerap dan menyimpan air.

“Kita membutuhkan ruang untuk pembangunan dan permukiman, tetapi pada saat yang sama kita membutuhkan kawasan hijau yang tetap berfungsi sebagai daerah resapan dan tangkapan air,” ujarnya.

Ia menegaskan keberhasilan kegiatan reboisasi tidak dapat diukur dari jumlah bibit yang ditanam dalam satu hari.

“Keberhasilannya akan terlihat dari berapa banyak pohon yang hidup, tumbuh, dan mampu memulihkan kawasan,” katanya.

Karena itu, Jefri mengajak seluruh pihak menjadikan kegiatan penanaman pohon sebagai gerakan berkelanjutan.

“Menanam adalah awal, merawat adalah komitmen, menjaga adalah tanggung jawab, dan mewariskan lingkungan yang baik adalah tujuan kita bersama,” ujarnya.

ICMI Dorong Gerakan Nyata

Ketua ICMI Kota Ambon, Abdul Tubaka, mengatakan persoalan lingkungan membutuhkan tindakan nyata dan tidak cukup hanya dibicarakan dalam berbagai forum.

Menurut dia, kegiatan penanaman pohon merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.

“Menanam pohon itu sama dengan melakukan investasi jangka panjang,” kata Abdul.

Ia menyebut PT DSA setiap hari mendistribusikan ribuan meter kubik air kepada masyarakat. Kondisi tersebut, menurut dia, harus diimbangi dengan tanggung jawab menjaga keberadaan sumber air.

Abdul menegaskan ICMI tidak hanya menjadi wadah pemikiran, tetapi juga harus hadir melalui aksi nyata dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Ia mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif terhadap lingkungan.

“Kesadaran tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Karena itu, kita semua harus menjadi agen untuk membangun ekosistem kesadaran bersama,” ujarnya.

Pemkot Ambon Tekankan Reboisasi Berkelanjutan

Kepala DLHP Kota Ambon, Apries Gaspersz, dalam sambutan tertulis Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, mengatakan persoalan ketersediaan air bersih masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Ambon, terutama di tengah kondisi kemarau.

Perubahan iklim, pertumbuhan kawasan perkotaan, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat menyebabkan persoalan air bersih menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersama-sama.

“Ini bukan sekadar ancaman, tetapi fakta yang harus kita cegah bersama,” kata Apries.

Pemerintah Kota Ambon, kata dia, mengapresiasi inisiatif ICMI Kota Ambon, IMM Kota Ambon, dan PT DSA dalam melaksanakan kegiatan penanaman pohon menjelang HUT ke-451 Kota Ambon.

Ia menekankan bahwa kegiatan reboisasi harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Jangan sekadar ditanam lalu ditinggalkan. Pohon-pohon yang ditanam harus dijaga dan dirawat,” ujarnya.

Apries mengatakan kondisi curah hujan yang rendah dalam beberapa bulan terakhir harus menjadi perhatian seluruh masyarakat. Kawasan hijau dan daerah resapan perlu dilindungi agar air hujan dapat terserap ke dalam tanah dan tidak langsung mengalir ke laut.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan menghindari pemborosan.

Menurut dia, kegiatan di Wairuhu menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Ia mengajak seluruh peserta menjadikan pohon yang ditanam sebagai simbol komitmen bersama.

“Pohon yang kita tanam hari ini adalah janji untuk tidak menebang sembarangan, janji untuk menjaga sungai, dan janji untuk menghemat air di rumah masing-masing,” katanya.

Apries kemudian secara resmi membuka kegiatan penanaman 1.000 pohon dalam rangka menyambut HUT ke-451 Kota Ambon.

“Dengan memohon tuntunan Tuhan Yang Maha Kuasa, kegiatan penanaman 1.000 pohon dalam menyambut HUT ke-451 Kota Ambon secara resmi saya nyatakan dibuka,” ujarnya.

Usai pembukaan, dilakukan penyerahan bibit pohon matoa kepada Pemerintah Kota Ambon dan penanaman pohon secara bersama-sama di kawasan Wairuhu-Air Besar.

Aksi tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih luas untuk melindungi kawasan hutan, daerah tangkapan air, dan sumber air bersih demi keberlanjutan Kota Ambon dan generasi mendatang.

Tidak ada komentar