Breaking News

Proyek Air Bersih Desa Latu Tahun 2013 Amburadul dan Terkesan ABS

Proyek air bersih desa Latu Kecamatan Amalatu, kabupaten Seram Bagian Barat menggunakan anggaran APBNP tahun 2013 senilai Rp. 2. 224. 60. 000 dikerjakan oleh  Balai Wilayah Sungai Maluku (BWS) serta kontraktor pelaksana “CV Elsando”  terkesan amburadul dan asal bapak senang (ABS).
Kran Penyalur yang cuma disanggah dengan batu
Ambon, Cahayalensa.com : : Proyek air bersih desa Latu Kecamatan Amalatu, kabupaten Seram Bagian Barat menggunakan anggaran APBNP tahun 2013 senilai Rp. 2. 224. 60. 000 dikerjakan oleh  Balai Wilayah Sungai Maluku (BWS) serta kontraktor pelaksana “CV Elsando”  amburadul dan terkesan asal bapak senang (ABS).

Amburadulnya pekerjaan ini karena diduga tidak menggunakan perencanaan yang baik tetapi menggunakan perencanaan asal jadi atau perencanaan abal-abal, dan juga diduga ada unsur “kongkalikong” antara pihak kontraktor “CV Elsando” dengan pihak BWS Maluku  “PPK air baku dan air tanah” untuk meraup keuntungan yang besar atau menguntungkan pihak tertentu, sehingga kuat dugaan ada unsur korupsi dalam proyek ini.

Kran yang tidak dibeton
Proyek yang menelan anggaran Miliaran Rupiah namun kenyataan di lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan anggaran yang dikucurkan. Pasalnya, dari hasil pantauan wartawan media ini di lokasi (18/01), penetapan sumber, pembuatan bak penampung, pekerjaan pemasangan pipa jaringan dan pembuatan kran umum terkesan asal jadi namun pihak Balai Wilayah Sungai Maluku terkesan tutup mata dan melakukan pembiaran.

Penetapan dua sumber di dua lokasi yang di pakai, Menurut warga setempat yang enggan namanya di publikasikan  mengatakan, sumber air yang dipakai sering terjadi kekeringan di musim kemarau.

“Ada mata air yang jauh dan layak di pakai akan tetapi pihak kontraktor lebih memilih yang terdekat untuk di pakai, kenyataannya salah satu sumber sekarang ini tidak dapat menyuplai air dengan baik lagi,  padahal pipa ribuan meter terbuang begitu saja”, Ungkapnya.

Pembuatan bak penampung tidak pada lokasi yang strategis sehingga tidak dapat menyuplai air pada masyarakat desa Latu secara menyeluruh, sehingga membuat masyarakat setempat menjadi bingung karena sebahagian besar masyarakat tidak bisa menikmati air bersih padahal anggaran yang dikucurkan untuk proyek ini sangat besar.

Ironisnya, pemasangan pipa dari sumber masuk ke dalam bak penampung sangat tidak rasional karena lubang tempat masuknya pipa dari sumber dilubangi setelah pembuatan bak penampung sehingga terlihat sangat tidak layak.

Pipa pembagi dari bak penampung masuk ke jaringan juga di alas dengan batu, kemudian pipa yang dipakai untuk jaringan tidak semuanya banyak yang terbuang begitu saja dan juga pipa jaringan tidak semuanya ditanam di dalam tanah sehingga secara kasat mata saja, dapat terlihat jelas- jelas pekerjaan asal – asalan atau asal jadi.

Keran umum yang di pasang pihak kontraktor tidak merata. Menurut Sumber media ini pemasangan mata kran seharusnya 100 buah namun dikerjakan tidak mencapai 100  dan juga tidak memenuhi standar operasional prosedur pekerjaan di mana sejumlah keran tidak dibeton sehingga mudah patah dan rusak.

“Semestinya dilakukan survei yang baik untuk mendapatkan perencanaan yang baik  namun diduga tidak dilakukan survei yang baik sehingga menghasilkan perencanaan abal-abal, maka sangat di sayangkan bila proyek Miliaran Rupiah namun realisasinya tidak sebanding dengan anggaran,” tandas Sumber media ini.

Persoalan seperti ini bukan hal yang baru lagi di negeri ini, pekerjaan asal jadi membuat koruptor telah merajalela, unsur “kongkalikong” untuk mendapatkan keuntungan yang dapat merugikan keuangan negara bukan hal yang lazim.

Oleh sebab itu warga masyarakat desa Latu sangat berharap penegak hukum jangan tertidur tetapi dapat melihat persoalan ini karena sangat merugikan masyarakat maupun Negara .

Tidak ada komentar