Satu Abad Jemaat GPM Gatik, Syukuri Penyatuan Dua Negeri dalam Kasih Tuhan
AMBON, CahayaLensa.com – Jemaat GPM Galala-Hative Kecil (Gatik) merayakan satu abad atau 100 tahun penyatuan Desa Galala dan Negeri Hative Kecil menjadi satu jemaat. Perayaan bersejarah tersebut berlangsung dalam rangkaian kegiatan sejak 30 Agustus hingga 4 September 2026.
Puncak perayaan akan dilaksanakan pada 2 September 2026, tepat 100 tahun setelah penyatuan kedua negeri tersebut menjadi satu jemaat pada 2 September 1926.
Ketua Panitia Perayaan Satu Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil,Johan Van Capelle mengatakan, momentum satu abad tersebut merupakan wujud syukur seluruh jemaat atas kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan sejarah jemaat.
“Dari tanggal 2 September 1926 sampai 2 September 2026, masyarakat dan Jemaat Galala-Hative Kecil merayakan 100 tahun. Sejarah dari 100 tahun ini adalah penyatuan dua negeri, yakni Desa Galala dan Negeri Hative Kecil menjadi satu jemaat,” ujarnya kepada wartawan,minggu (30/8)
Menurutnya, perjalanan satu abad tersebut telah dilalui dengan berbagai tantangan dan peristiwa kehidupan. Jemaat pernah menghadapi banjir besar di Galala pada tahun 1950, konflik sosial Maluku tahun 1999, gempa bumi, serta berbagai persoalan lainnya.
Namun, seluruh perjalanan tersebut semakin memperkuat iman jemaat karena hingga saat ini Jemaat GPM Galala-Hative Kecil tetap berdiri kokoh.
“Atas kasih Tuhan, jemaat ini tetap berdiri kokoh. Karena itu, kami mensyukuri kasih Tuhan yang telah menyertai dan memberkati kami sepanjang 100 tahun ini dengan merayakannya dalam sukacita,” katanya.
Dalam perayaan satu abad tersebut, panitia mengundang seluruh anak negeri Galala dan Hative Kecil yang berada di berbagai daerah di Indonesia maupun di luar negeri.
Sejumlah anak negeri dijadwalkan datang dari Jakarta dan daerah lainnya, termasuk dari Belanda dan Irlandia.
Panitia memulai rangkaian kegiatan dengan penjemputan saudara-saudara yang datang dari luar daerah.
“Kita tidak mungkin merayakan kasih Tuhan ini sendiri. Karena itu, kami mengajak semua saudara Galala dan Hative Kecil, baik yang berada di Belanda, Irlandia maupun di seluruh wilayah Indonesia, untuk bersama-sama merayakan 100 tahun ini,” ungkap Ketua Panitia
Ia mengatakan, kedatangan anak-anak negeri masih akan berlangsung hingga 2 September karena sebagian besar warga yang datang masih terikat dengan aktivitas pekerjaan.
“Ada saudara dari Jakarta yang baru tiba malam ini karena perjalanan kapal mengalami keterlambatan. Sampai tanggal 2 September masih akan ada saudara-saudara yang datang dari Jakarta maupun daerah lainnya,” katanya.
Rangkaian perayaan satu abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil dimulai sejak 30 Agustus 2026.
Pada 2 September akan dilaksanakan ibadah syukur di gedung gereja sebagai puncak peringatan 100 tahun penyatuan Galala dan Hative Kecil.
Selanjutnya, pada 3 September akan dilaksanakan makan patita sebagai simbol kebersamaan dan persaudaraan seluruh anak negeri.
Sementara itu, pada 4 September, seluruh rangkaian kegiatan akan ditutup dengan malam badonci yang akan menjadi momentum sukacita bersama antara warga Galala-Hative Kecil dan seluruh tamu yang hadir.
“Pada tanggal 4 September, sebagai acara penutupan, kita akan melaksanakan malam badonci bersama seluruh saudara, baik dari Galala-Hative Kecil, dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari luar negeri,” ujarnya.
Selain keluarga besar Galala dan Hative Kecil, panitia juga mengundang negeri-negeri yang memiliki hubungan pela dan gandong.
Galala memiliki hubungan pela dengan Negeri Hitulama, sedangkan Hative Kecil memiliki hubungan pela dengan Hitumeseng.
Selain itu, sejumlah pejabat negeri dan unsur masyarakat dari Hative Besar, Halong dan Nusaniwe turut diundang sebagai bagian dari penguatan hubungan persaudaraan dan Hinuhahala yang selama ini telah terjalin.
Ketua Panitia berharap perayaan satu abad tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mempersatukan seluruh anak negeri Galala-Hative Kecil, termasuk mereka yang berada di tanah rantau.
Menurutnya, perayaan tersebut sekaligus menjadi langkah awal untuk memikirkan masa depan jemaat dalam 100 tahun mendatang.
“Kita sudah berpikir tentang 100 tahun ke depan. Langkah awal yang kita lakukan adalah mengonsolidasikan semua kebutuhan Jemaat Gatik dan mengajak semua anak negeri yang berada di mana pun untuk bersama-sama berkontribusi bagi negeri dan jemaat,” katanya.
Salah satu kebutuhan jemaat yang akan menjadi perhatian ke depan adalah pembangunan Gereja Yabok.
Karena itu, seluruh anak negeri diajak untuk mengambil bagian dalam pembangunan serta berbagai kebutuhan jemaat dan negeri.
“Kami mengajak semua untuk berpartisipasi dan melihat segala kebutuhan yang ada dalam negeri dan jemaat, termasuk pembangunan gereja,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada seluruh anak negeri yang datang untuk menikmati seluruh rangkaian kegiatan dan membawa pulang kesan baik dari perayaan tersebut.
Selain itu, mereka diharapkan tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan jemaat meskipun telah tinggal di luar daerah.
“Ketika kita diberkati, berarti kita harus menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Terlebih khusus bagi mereka yang lahir di sini, dibaptis di sini dan menikah di sini, mereka juga harus memberikan kontribusi bagi jemaat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, Pdt. Ny. A. Hanoatubun, menegaskan bahwa perayaan yang dilaksanakan bukan merupakan perayaan masuknya Injil.
Menurutnya, perayaan tersebut secara khusus memperingati 100 tahun penyatuan Desa Galala dan Negeri Hative Kecil menjadi satu jemaat.
“Perlu kami jelaskan bahwa perayaan ini bukan perayaan Injil masuk, tetapi perayaan penyatuan Negeri Hative Kecil dan Desa Galala menjadi satu jemaat. Tanggal 2 September nanti merupakan 100 tahun penyatuan dua negeri ini menjadi satu jemaat,” jelas Hanoatubun.
Ia mengatakan, perjalanan selama satu abad merupakan perjalanan iman yang panjang dan penuh dengan karya Tuhan.
Bagi Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, perayaan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah dan memperkuat persekutuan.
Menurut Hanoatubun, sejarah masa lalu kedua negeri tidak selalu mudah. Namun, Tuhan telah menyatukan dua negeri yang berdekatan tersebut hingga menjadi satu persekutuan jemaat.
“Kita tahu bahwa dalam sejarah masa lalu pernah terjadi berbagai persoalan dan konflik antarnegeri. Tetapi luar biasa, Tuhan menyatukan dua negeri yang berdekatan ini dan mereka bisa menjadi satu. Tidak mudah mendapatkan satu jemaat dengan dua negeri yang menyatu seperti ini,” katanya.
Karena itu, Jemaat GPM Galala-Hative Kecil sangat bersyukur atas perjalanan sejarah yang telah Tuhan kerjakan selama 100 tahun.
Perayaan satu abad ini diharapkan menjadi landasan yang kuat untuk terus membangun persekutuan demi kemuliaan Tuhan.
“Ini bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi landasan yang kuat agar persekutuan ini terus dibangun. Tuhan telah merangkai sejarah dan menyatukan dua negeri ini dengan baik,” ujarnya.
Hanoatubun juga berharap sejarah kasih dan karya Tuhan dalam menyatukan Galala dan Hative Kecil terus diceritakan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, anak-anak negeri, baik yang tinggal di Galala dan Hative Kecil maupun yang berada di tanah rantau, tetap mengetahui dan memahami sejarah perjalanan jemaat.
“Harapan kami, dari generasi ke generasi, sejarah ini terus dituturkan dengan baik. Sejarah tentang Tuhan yang telah berkarya dan menyatukan kita harus tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan semua anak negeri,” tandasnya.
Melalui perayaan satu abad tersebut, seluruh Jemaat GPM Galala-Hative Kecil diharapkan semakin memperkuat persaudaraan, menjaga persekutuan serta bersama-sama membangun masa depan negeri dan jemaat.
Rangkaian Perayaan Satu Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil akan berlangsung hingga 4 September 2026 dan menjadi momentum perjumpaan seluruh anak negeri untuk mengenang sejarah, mensyukuri karya Tuhan, serta menatap perjalanan 100 tahun berikutnya.


Tidak ada komentar