Ketua DPRD Ambon: Makan Patita Momentum Perkuat Persaudaraan dan Lestarikan Budaya Maluku
AMBON, CahayaLensa.com — Ketua DPRD Kota Ambon, Morits Tamaela, menilai tradisi Makan Patita yang digelar masyarakat dan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan sekaligus melestarikan kearifan budaya lokal Maluku.
Hal itu disampaikan Tamaela usai menghadiri kegiatan Makan Patita Bersama yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan 1 Abad atau 100 tahun Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, yang berlangsung di Desa Galala dan Negeri Hative Kecil, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, Makan Patita bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat Maluku karena menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, solidaritas, dan hubungan persaudaraan.
“Ini merupakan bagian dari tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Maluku. Apalagi dalam momentum satu abad jemaat, banyak saudara-saudara yang sudah puluhan tahun meninggalkan negeri dan jemaat bisa kembali berkumpul dan berjumpa,” ujarnya.
Ia mengapresiasi antusiasme masyarakat yang begitu besar dalam seluruh rangkaian kegiatan perayaan 1 Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil.
Menurut Tamaela, kehadiran masyarakat tidak hanya berasal dari Galala dan Hative Kecil, tetapi juga dari berbagai negeri dan daerah yang memiliki hubungan pela dan gandong.
“Kebersamaan seperti ini harus terus kita jaga. Makan Patita menjadi simbol persatuan dan kekeluargaan orang basudara,” katanya.
Tamaela berharap tradisi dan berbagai kearifan lokal Maluku dapat terus dikembangkan sehingga tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Ia mendorong pemerintah desa dan pemerintah negeri untuk bersama-sama merancang berbagai kegiatan budaya seperti Panas Pela, Panas Gandong maupun Gating Panggil Pulang agar menjadi agenda yang dapat terus diwariskan kepada generasi muda.
“Kalau tidak terus dikembangkan, kita khawatir nilai-nilai budaya kita, termasuk makanan tradisional Maluku, perlahan-lahan akan hilang. Karena itu, harus ada kolaborasi antara pemerintah, pihak swasta, masyarakat dan seluruh elemen untuk menjaga warisan budaya ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tamaela menekankan pentingnya menjaga hubungan kebersamaan antara masyarakat Desa Galala dan Negeri Hative Kecil.
Ia mengingatkan agar perbedaan kepentingan, ego kelompok maupun persoalan sektarian tidak menjadi alasan yang dapat memecah persaudaraan masyarakat.
“Jangan sampai perbedaan kepentingan, ego maupun persoalan sektarian membuat kita terpecah. Kita harus saling menopang dan bekerja sama dengan pemerintah negeri maupun pemerintah desa,” tegasnya.
Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk mendukung pembangunan sekaligus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Jika masyarakat tidak saling mendukung dan menopang, kata Tamaela, berbagai program pembangunan dan pelayanan publik dapat mengalami hambatan.
Karena itu, solidaritas, persaudaraan dan semangat kekeluargaan antara masyarakat Galala dan Hative Kecil harus terus dipelihara.
Tamaela berharap momentum perayaan 100 tahun Jemaat GPM Galala-Hative Kecil tidak berhenti sebagai sebuah perayaan seremonial semata.
Sebaliknya, momentum tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh generasi untuk terus menjaga persatuan, melestarikan budaya, serta memperkuat hubungan persaudaraan sebagai orang basudara.
“Seratus tahun ini harus menjadi momentum untuk kita terus menjaga persatuan, budaya dan persaudaraan. Jangan hanya berhenti pada perayaan, tetapi harus menjadi semangat yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.


Tidak ada komentar