Dari Auditorium Unpatti untuk Indonesia Emas: Ketika 1.200 Pelajar Maluku Menantang Gap Literasi 6 Persen
Dari Auditorium Unpatti untuk Indonesia Emas: Ketika 1.200 Pelajar Maluku Menantang Gap Literasi 6 Persen
AMBON, CahayaLensa.com - Gedung Auditorium Universitas Pattimura bergetar. Bukan karena wisuda, melainkan karena tepuk tangan lebih dari 1.200 pelajar SMP dan SMA se-Kota Ambon. Pada Rabu, (3/9/2026), mereka menjadi saksi puncak dari sebuah gerakan yang menentukan masa depan mereka: Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Puncak Bulan Literasi Keuangan (BLK) Provinsi Maluku 2026.
Acara yang digelar Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku bersama Pemerintah Provinsi Maluku, Pemkot Ambon, LPS, industri perbankan, dan satuan pendidikan itu mengusung tema nasional "Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan". Secara lokal, pesannya dipertegas: Menabung Hari Ini, Sejahtera di Masa Depan dan Keuangan Inklusif, Maluku Maju dan Berkelanjutan.
Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah jawaban atas sebuah kegelisahan.
PR Besar di Balik Angka 63,87 Persen
Di atas panggung, Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady, membuka data yang menjadi alarm bagi semua. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK bersama BPS dan LPS di 38 provinsi, indeks literasi keuangan nasional tercatat 69,57 persen dan inklusi 93,61 persen.
Maluku? Masih tertinggal.
"Untuk Provinsi Maluku, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 63,87 persen dan inklusi 87,59 persen, atau masih terdapat gap sekitar 5-6 persen dibandingkan rata-rata nasional," ungkap Haramain.
Yang lebih mengkhawatirkan, segmen pelajar/mahasiswa secara nasional hanya 62,72 persen, dan kelompok usia 15-17 tahun hanya 56,04 persen.
"Masih ada gap sekitar 5-6% dibandingkan dengan indeks literasi dan inklusi keuangan nasional. Oleh karena itu, misi kita bersama meningkatkan literasi keuangan masyarakat Provinsi Maluku agar masyarakat dapat mengambil keputusan keuangan yang tepat dan terhindar dari jebakan layanan keuangan ilegal," kata Haramain tegas.
Gap inilah yang menjadi alasan OJK Maluku menetapkan pelajar sebagai kelompok sasaran prioritas. Karena di tangan merekalah, Indonesia Emas 2045 dipertaruhkan.
Ajakan dari Gubernur di Tengah Kepungan Pinjol Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, yang hadir bersama Ketua DPRD Benhur George Watubun dan Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, memberikan apresiasi sekaligus peringatan keras.
Ia mengapresiasi langkah konkret OJK Maluku yang telah mengintegrasikan Modul Ajar Literasi Keuangan ke dalam mata pelajaran IPS bagi SMP dan MTs se-Kota Ambon, hingga pembentukan Duta Literasi Keuangan.
Namun, Hendrik mengingatkan generasi muda Maluku tentang musuh baru yang lebih senyap dari kemiskinan: kejahatan finansial digital.
"Sebagai Pemerintah Daerah, saya berkomitmen untuk terus bersinergi... termasuk di pulau-pulau terluar dan wilayah kepulauan yang membutuhkan perhatian khusus," ujarnya.
"Generasi muda Maluku untuk senantiasa waspada terhadap pinjaman daring ilegal, investasi ilegal, judi daring, dan berbagai modus penipuan keuangan digital, serta menjaga kerahasiaan data pribadi, PIN, dan kode OTP."
Pesan yang relevan. Di saat literasi masih di bawah 64 persen, godaan pinjol dan judol hanya sejauh satu klik di ponsel.
Puncak di Unpatti kemarin sejatinya adalah penutup dari kerja sunyi yang telah berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026, bagian dari kampanye nasional Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, OJK Maluku bersama para pemangku kepentingan telah melaksanakan 82 kegiatan literasi dan edukasi keuangan yang menjangkau 9.310 peserta dari berbagai segmen: pelajar, santri, karyawan, perempuan, petani/nelayan, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum.
Rangkaiannya tidak main-main: Kick-Off BLK di SMPN 4 Ambon, Training of Trainers (ToT) bagi guru IPS, sosialisasi waspada aktivitas keuangan ilegal dan pengenalan Simpanan Pelajar (SimPel), edukasi keuangan syariah, bahkan edukasi untuk penyandang disabilitas di SLB Negeri Batu Merah.
Hasilnya? Sepanjang 2026, industri perbankan di Maluku telah membuka 3.028 rekening SimPel baru yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Terbanyak di Kota Ambon dengan 1.099 rekening, disusul Seram Bagian Barat 554 rekening, dan Maluku Tenggara 407 rekening.
Kepala OJK Maluku menegaskan, angka itu bukan tujuan akhir. "Capaian pembukaan rekening SimPel perlu diimbangi dengan penanaman kebiasaan menabung yang konsisten oleh para pelajar agar rekening yang telah dibuka dapat terus aktif dan bertumbuh."
Tiga Piala dari Bekasi untuk Maluku
Kerja keras itu terbayar. Pada puncak peringatan HIM dan BLK 2026 tingkat nasional yang digelar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi pada 28 Agustus 2026, Maluku memboyong tiga penghargaan nasional sekaligus:
1. Provinsi Maluku meraih KEJAR Award 2026 kategori Wilayah Implementasi KEJAR Terbaik Tingkat Provinsi Regional Nusa Tenggara-Maluku-Papua.
2. PT BPR Modern Express meraih KEJAR Award 2026 kategori Bank Implementasi KEJAR Terbaik Subkategori BPR/BPRS Wilayah Nusa Tenggara-Maluku-Papua.
3. Pemerintah Kota Ambon meraih Financial Literacy Award 2026 kategori Pemerintah Daerah dengan Program Literasi Keuangan Terbaik Tingkat Kota.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, dihadiri lebih dari 1.100 pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia.
Puncak di Ambon pun ditutup dengan talkshow edukasi bersama narasumber OJK, LPS, dan Bank Indonesia, aksi pembukaan rekening SimPel, lomba edukatif, dan pembagian doorprize.
Dari Ambon, pesannya jelas. Literasi keuangan bukan sekadar soal bisa menabung. Ini soal ketahanan. Soal bagaimana seorang pelajar di pulau terluar Maluku bisa membedakan mana investasi dan mana jebakan, mana kebutuhan dan mana keinginan. Budaya menabung yang ditanam hari ini adalah benteng untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang terliterasi, inklusif, dan sejahtera secara finansial menuju Indonesia Emas 2045.


Tidak ada komentar