Breaking News

Inklusi Tinggi, Literasi Tertinggal: Jurang 41 Persen yang Menjebak Warga Maluku

Inklusi Tinggi, Literasi Tertinggal: Jurang 41 Persen yang Menjebak Warga Maluku

Kas Kayu La Musa

Ambon, CahayaLensa.com - Di sebuah rumah kayu di Dusun Kalauli, Desa Kaitetu, Kabupaten Maluku Tengah, ada sebuah kas yang selalu terkunci rapat. Kayunya sudah tua, engselnya berderit, catnya memudar dimakan udara laut. Namun bagi pemiliknya, benda sederhana itulah benteng pertahanan keuangan paling aman di dunia.

Setiap kali pulang melaut, La Musa membuka kas itu. Dari kantong plastik kresek yang masih bau amis, ia menyelipkan beberapa lembar uang hasil menjual ikan, lalu menguncinya kembali dengan hati-hati. Tidak ada buku tabungan. Tidak ada kartu debit. Tidak ada aplikasi mobile banking di ponsel tuanya.

Sudah lebih dari dua puluh tahun La Musa hidup dari laut. Laut memberinya rezeki, kadang jutaan rupiah dalam semalam ketika musim ikan tiba. Namun laut tidak pernah mengajarinya cara mengelola uang.

"Beta takut ke bank. Tidak tahu caranya, takut salah pencet, takut uang hilang," katanya polos, Rabu (30/9/2026), sambil mengelus sisi kas kayunya.

Ia tidak pernah mendengar istilah literasi keuangan. Nama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun terdengar asing di telinganya. Selama dua dekade menjadi nelayan, belum pernah ada petugas atau penyuluh yang datang ke desanya untuk menjelaskan tentang menabung, tentang kredit usaha, atau tentang bahaya pinjaman online ilegal yang kini merajalela di kota-kota besar.

Bagi La Musa, uang yang aman adalah uang yang bisa dilihat dan dipegang. Logikanya sederhana dan masuk akal bagi orang pesisir: apa yang ada di depan mata tidak akan hilang.

Padahal, justru di situlah letak tragedinya. Menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di rumah menyimpan risiko yang jauh lebih besar: hilang dicuri, rusak dimakan rayap, ludes terbakar, dan pelan-pelan nilainya tergerus inflasi. Kas kayu itu bukanlah benteng. Ia adalah penjara bagi masa depan.
Terjebak di Jurang Statistik
Kisah La Musa bukanlah kisah tunggal. Ia adalah wajah dari sebuah jurang statistik yang menganga lebar di Provinsi Maluku.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), indeks inklusi keuangan Maluku tercatat mencapai 81,04 persen. Angka yang tinggi. Artinya, secara teori, akses masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan formal sudah terbuka lebar.

Namun, indeks literasi keuangannya hanya 40,78 persen. Selisihnya lebih dari 40 persen. Inilah jurang itu.

Jurang antara "punya akses" dan "paham cara pakai". Jurang antara "bisa buka rekening" dan "berani menabung". Jurang antara "terdaftar dalam statistik" dan "berdaya dalam kenyataan". Di dalam jurang inilah La Musa dan ribuan warga pesisir lainnya terjebak.

Mereka terhitung sudah inklusif secara statistik, mungkin karena pernah didata, atau tinggal di daerah yang terjangkau jaringan keuangan. Tetapi mereka belum berdaya. Mereka belum mampu membuat keputusan keuangan yang tepat untuk masa depan mereka.

Angka inklusi yang tinggi itu, pada kenyataannya, adalah fatamorgana. Ia memotret kepemilikan akses, bukan keberanian dan kemampuan menggunakannya. Seperti jalan tol yang dibangun megah, tetapi penduduk desa sekitarnya tidak punya kendaraan untuk melintasinya, bahkan tidak tahu ke mana jalan itu menuju.
Putus di Generasi Berikutnya
Yang lebih mengkhawatirkan, jurang ini diwariskan. Buta finansial bukanlah takdir yang berhenti pada satu generasi, ia adalah rantai yang terus disambung dari orang tua ke anak.

Di desa yang sama, seorang pelajar SMA mengaku hingga kini tidak memiliki tabungan di bank. Jangankan memahami investasi atau dana darurat, ia bahkan bingung membedakan bank umum dan bank perkreditan rakyat.

"Di sekolah tidak pernah diajari. Di desa juga belum pernah ada sosialisasi OJK," ujar Udin, salah satu pelajar.

Padahal, sub-tema yang diusung OJK tahun ini adalah Literasi dan Inklusi Keuangan untuk Mewujudkan Masyarakat yang Berdaya dan Sejahtera secara Finansial. Sebuah tema yang muluk, yang terdengar jauh dari ruang kelas di Kaitetu yang bahkan belum pernah disentuh sosialisasi.

Bagaimana mungkin mewujudkan generasi yang sejahtera finansial, jika generasi mudanya bahkan belum punya tabungan pertama?

Rantai ini terus berputar tanpa jeda. Anak nelayan yang tidak paham keuangan berpotensi besar mengulangi pola orang tuanya: bekerja keras seumur hidup, namun tetap rentan miskin di hari tua karena tidak memiliki perencanaan. Ketika musim ikan tiba, uang berlimpah lalu habis untuk konsumsi. Ketika musim paceklik datang, tidak ada cadangan. Dan ketika tubuh tak lagi kuat melaut, tidak ada jaminan hari tua.

Kemiskinan di pesisir, dengan demikian, bukanlah semata soal kurangnya pendapatan. Ia adalah soal pendapatan yang tidak pernah diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Dari Kaitetu ke Mardika
Setiap pagi sebelum matahari terbit, hasil tangkapan nelayan seperti La Musa bermuara di tempat seperti Pasar Mardika di Ambon. Di sana, pedagang-pedagang ikan berteriak menjajakan dagangan. Es balok mencair, timbangan berderak, uang berpindah tangan dengan cepat. Ekonomi rakyat berputar dengan kencang.

Namun perputaran uang tunai yang kencang itu tidak otomatis berarti kesejahteraan. Tanpa literasi, pedagang ikan pun kesulitan mengembangkan usaha. Mereka takut mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena tidak paham bunga dan agunan. Mereka lebih memilih meminjam ke rentenir dengan bunga mencekik, semata karena prosesnya dianggap lebih mudah dan tidak menakutkan.

Di sinilah ironi terbesarnya: negara sudah menyediakan KUR dengan bunga ringan justru untuk orang-orang seperti mereka, tetapi ketakutan dan ketidaktahuan membuat mereka justru jatuh ke pelukan rentenir. Akses ada, tetapi keberanian dan pengetahuan untuk menggunakannya tidak ada.

Inilah potret ekonomi yang belum berdaya: ramai secara transaksi, tapi rapuh secara fondasi. Uang mengalir deras seperti air laut, tetapi tidak pernah tertampung menjadi bendungan kesejahteraan.
Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai
OJK Provinsi Maluku sebenarnya tidak tinggal diam. Sepanjang 2025, tercatat 379 kegiatan literasi dan edukasi keuangan telah digelar, menjangkau 89.972 orang di 11 kabupaten/kota. Upaya kolaborasi dengan perbankan dan pemerintah daerah terus dilakukan. Angka-angka itu patut diapresiasi.

Namun Maluku adalah provinsi kepulauan. Dengan lebih dari 1.300 negeri yang tersebar dan dipisahkan laut, biaya untuk menjangkau satu desa pesisir bisa berkali-kipat dibandingkan menggelar seminar di aula hotel di Ambon. Akibatnya, gaung literasi masih terpusat di kota, belum menjadi bisikan yang sampai ke telinga La Musa di Kaitetu.

Persoalannya bukan sekadar jumlah kegiatan, melainkan cara menjangkau. Selama literasi masih menunggu warga datang ke aula seminar, jurang 41 persen itu tidak akan tertutup. Literasi harus dijemput bola: datang ke tete-tete perahu tempat nelayan memperbaiki jaring, duduk di balai desa saat malam hari, masuk ke ruang-ruang kelas di pedesaan. Menggunakan bahasa orang Kaitetu, bukan bahasa brosur perbankan.

Edukasi keuangan untuk nelayan tidak bisa dimulai dari istilah "diversifikasi portofolio" atau "manajemen risiko". Ia harus dimulai dari pertanyaan paling sederhana: bagaimana caranya agar uang hasil melaut malam ini masih ada saat anak butuh biaya sekolah tiga bulan lagi?
Harapan di Ujung Kas Kayu
La Musa menutup perbincangan dengan sebuah harapan sederhana. Ia ingin anaknya tidak takut ke bank seperti dirinya.

"Beta ingin paham, supaya uang hasil melaut ini bisa aman untuk sekolah anak," katanya sambil mengelus kas kayunya, kali ini dengan tatapan yang jauh.

Harapan sederhana itu adalah inti dari masyarakat yang berdaya finansial. Bukan tentang menjadi kaya raya dari investasi, melainkan tentang memiliki keberanian dan pengetahuan untuk menempatkan hasil kerja keras di tempat yang aman dan bertumbuh.

Selama kas kayu masih dianggap lebih aman daripada bank, selama pelajar masih belum punya tabungan pertama, maka jurang 41 persen itu masih akan terus menjebak warga Maluku. Dan pekerjaan untuk mewujudkan kesejahteraan finansial yang inklusif, masih jauh dari selesai.

Namun harapan La Musa juga adalah titik terang. Bahwa di balik ketakutan, ada keinginan untuk paham. Di balik keterbatasan, ada kesadaran bahwa anaknya harus lebih baik. Tinggal bagaimana negara, perbankan, dan semua pihak yang peduli, menjawab keinginan itu, bukan dengan brosur dan seminar di hotel, melainkan dengan kehadiran yang nyata di tepi perahu, di balai desa, dan di ruang kelas tempat generasi berikutnya sedang menunggu untuk diajari.

Tidak ada komentar