Breaking News

Bodewin Targetkan Ambon Tuntas Madya, Sekolah Diminta Benahi Rapor Pendidikan


Ambon, CahayaLensa.com — Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena meminta seluruh kepala sekolah jenjang SD dan SMP serius memanfaatkan Rapor Pendidikan untuk memperbaiki mutu pendidikan. Ia menargetkan Kota Ambon dapat mencapai kategori Tuntas Madya.

Hal itu disampaikan Bodewin saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Evaluasi dan Peningkatan Rapor Pendidikan Satuan Pendidikan Jenjang SD dan SMP se-Kota Ambon Tahun 2026 yang digelar Dinas Pendidikan Kota Ambon di Manise Hotel, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari dan diikuti kepala satuan pendidikan jenjang SD dan SMP se-Kota Ambon. Narasumber dalam kegiatan ini yakni Asyifa Wakano dari Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Maluku.

Ketua Panitia, Imel Mansur, mengatakan Bimtek digelar untuk meningkatkan pemahaman satuan pendidikan dalam mengevaluasi dan memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai dasar perencanaan peningkatan mutu pendidikan.

"Rapor Pendidikan merupakan salah satu instrumen penting dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan melalui penyediaan informasi mengenai kondisi dan capaian pendidikan pada satuan pendidikan maupun daerah," kata Imel dalam laporannya.

Menurutnya, melalui Rapor Pendidikan, sekolah dapat mengidentifikasi persoalan, melakukan refleksi terhadap akar masalah, serta menentukan langkah perbaikan sesuai kebutuhan.

Bimtek tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP Nomor 4 Tahun 2022 serta Surat Keputusan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 63 Tahun 2026 tentang Indikator Rapor Pendidikan Satuan Pendidikan dan Rapor Pendidikan Daerah.

Bodewin mengatakan pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa. Karena itu, peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.

"Kalau kita ingin meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, kita tidak bisa mendasari diri pada asumsi. Tidak bisa kayak-kayaknya. Tapi mesti memiliki data dan data yang akurat," kata Bodewin.

Menurut dia, Rapor Pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai angka atau hasil penilaian sekolah. Data tersebut harus digunakan untuk menemukan persoalan sekaligus menentukan langkah perbaikan.

"Rapor Pendidikan itu bukan sekadar angka, bukan sekadar tampilan sebuah hasil penilaian terhadap satuan pendidikan. Tapi dia juga mesti dapat kita manfaatkan sebagai alat untuk memperbaiki, untuk meningkatkan berbagai indikator variabel yang masih kurang," ujarnya.

Bodewin menyebut capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kota Ambon dalam empat tahun terakhir menunjukkan perkembangan. Dari angka 60,51, capaian Ambon meningkat menjadi 71,73 dan kemudian 75,1 hingga masuk kategori Tuntas Pratama.

Meski mengalami peningkatan, Bodewin meminta sekolah tidak cepat berpuas diri. Sekolah yang masih berada pada kategori merah maupun kuning diminta segera mencari akar persoalan dan menyusun program perbaikan.

"Tugas Bapak, Ibu apa? Gali akar masalah itu, lalu cabut akar masalah itu. Yang merah naik ke kuning, yang kuning naik ke hijau," tegasnya.

Ia juga meminta sekolah memastikan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sesuai dengan kebutuhan dan akar persoalan yang ditemukan dalam Rapor Pendidikan.

"Jangan lagi akar masalah ada di A, bikin program di B. Nanti kalau merah tinggal di merah, kuning tinggal di kuning, kalau hijau bisa turun lagi ke merah, hati-hati," katanya.

Bodewin menargetkan Kota Ambon dapat mencapai Tuntas Madya selama masa kepemimpinannya.

"Selama beta jadi Wali Kota, katong mesti masuk Tuntas Madya," ujarnya.

Ia mengatakan target tersebut bukan kepentingan pribadi, melainkan menjadi target bersama Pemerintah Kota Ambon dan seluruh satuan pendidikan.

"Beta ini tidak mengejar target pribadi. Target kita adalah target Pemerintah Kota Ambon," tambahnya.

Selain membahas Rapor Pendidikan, Bodewin juga mendorong pengembangan pembelajaran musik di seluruh sekolah di Kota Ambon.

Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan identitas Ambon sebagai Kota Kreatif UNESCO bidang musik.

"Branding kota kreatif berbasis musik yang diberikan oleh UNESCO itu bukan cuma tanggung jawab Kadis Pariwisata, bukan cuma tanggung jawab OPD atau bidang tertentu. Semua kita mesti mendukungnya," kata Bodewin.

Ia meminta kurikulum musik yang sebelumnya telah diterapkan di sejumlah sekolah dapat diimbaskan ke seluruh sekolah di Kota Ambon.

Bodewin menilai musik bukan hanya berkaitan dengan kemampuan seni, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun karakter siswa.

"Identitas budaya yang di dalamnya ada seni musik, tari-tarian dan lain-lain itu merupakan sarana kita sebenarnya untuk membangun karakter anak-anak kita," ujarnya.

Ia mencontohkan kemampuan bermain alat musik membutuhkan proses, kesabaran dan ketelitian. Nilai-nilai tersebut dinilai dapat mendukung pembentukan karakter peserta didik.

"Daripada dong tawuran, lebih baik kasih dong main ukulele di sekolah," katanya.

Bodewin mengatakan Pemkot Ambon akan mendorong pengembangan kurikulum musik melalui integrasi dengan mata pelajaran Seni dan Budaya. Pemkot juga akan menginventarisasi tenaga yang dapat membantu pelatihan musik di sekolah.

"Nanti kita bikin, beta mengintegrasikan dengan mata pelajaran Seni dan Budaya. Kalau bicara musik, nanti katong datangkan pelatih-pelatih," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bodewin juga menyinggung pendataan peserta didik yang memiliki kemampuan atau terlibat dalam kegiatan musik.

Dari 106 satuan pendidikan yang telah memasukkan data, tercatat 1.812 siswa. Sementara total satuan pendidikan SD dan SMP di Kota Ambon disebut mencapai sekitar 245 sekolah.

Bodewin berharap jumlah tersebut masih dapat bertambah setelah seluruh sekolah memasukkan data.

"Baru 106 yang masuk. Siapa tahu Selasa-Selasa ini masuk akan naik jadi 5.000, sudah lumayan," katanya.

Ia bahkan membuka peluang Kota Ambon mencatatkan rekor dalam kegiatan musik jika jumlah peserta nantinya memenuhi persyaratan.

Menurutnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah memastikan seluruh data siswa dan sekolah yang terlibat dalam kegiatan musik terinventarisasi.


Bodewin juga mengingatkan kepala sekolah agar tidak mudah percaya kepada pihak yang mengatasnamakan dirinya untuk meminta sesuatu, termasuk terkait jabatan kepala sekolah.

"Beta seng pernah mendelegasikan satu orang pun untuk datang dan bicara soal hal-hal tertentu. Jadi usah percaya," tegasnya.

Ia meminta kepala sekolah cukup mengikuti arahan resmi dari Dinas Pendidikan dan pejabat yang berwenang.

"Bapak, Ibu cuma cukup dengar Pak Kadis, seterusnya dengan pejabat-pejabat yang lain. Seng usah dengar apalagi orang yang di luar-luar," ujarnya.

Bodewin berharap Bimtek Rapor Pendidikan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan langkah nyata untuk memperbaiki indikator pendidikan yang masih rendah.

Ia meminta para kepala sekolah menggunakan hasil evaluasi Rapor Pendidikan untuk menentukan program prioritas, terutama dalam memperbaiki aspek literasi, numerasi dan indikator lainnya yang masih berada pada kategori rendah.

"Jadi kita fokus saja ke situ supaya perbaikan indikator atau variabel-variabel itu bisa dilakukan dengan baik," pungkasnya.

Tidak ada komentar