Breaking News

Satu Abad GPM Galala-Hative Kecil, Warisan Iman Menyambut Abad Baru


Ambon, CahayaLensa.com — Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Galala-Hative Kecil menandai satu abad perjalanan pelayanan melalui Ibadah Syukur yang berlangsung di Gedung Gereja Emanuel,Rabu (2/9/2026).

Perayaan bersejarah ini menjadi momentum mengenang perjalanan panjang jemaat sejak Galala dan Hative Kecil dipersatukan dalam satu persekutuan pada 2 September 1926.

Perayaan Satu Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil mengusung tema “Mengukuhkan Warisan Iman, Kesatuan Pelayanan Lintas Generasi untuk Kemuliaan Tuhan.”

Ketua Panitia Perayaan Satu Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, Johan Van Capelle, mengatakan perjalanan selama seratus tahun menjadi bukti nyata kasih dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan jemaat.

Menurutnya, pada awal perjalanan iman, masyarakat Galala dan Hative Kecil menjalani kehidupan persekutuan masing-masing. Namun, dalam perjalanan sejarah dan atas kehendak Tuhan, kedua komunitas tersebut dipersatukan dalam satu persekutuan jemaat.

“Perjalanan panjang selama satu abad ini merupakan bukti nyata kasih Tuhan yang senantiasa memelihara, memberkati, dan menyertai jemaat dalam suka maupun duka, dalam pergumulan maupun sukacita pelayanan,” kata Van Capelle dalam laporan panitia.

Ia mengatakan, tema perayaan menjadi pengingat bagi seluruh warga jemaat untuk terus memelihara dan meneruskan warisan iman yang telah dibangun oleh para pendahulu.

Selain itu, persatuan antarwarga jemaat lintas generasi perlu terus dijaga agar pelayanan gereja dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Perayaan satu abad, kata dia, juga menjadi kesempatan bagi warga jemaat untuk merefleksikan perjalanan iman, mensyukuri karya para pendahulu, serta memperbarui komitmen bersama dalam melanjutkan pelayanan ke depan.

Sejalan dengan tema perayaan, sejumlah tujuan menjadi perhatian panitia, antara lain mengucap syukur atas penyertaan Tuhan selama satu abad perjalanan pelayanan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil.

Selain itu, perayaan ini juga bertujuan mengukuhkan dan mewariskan nilai-nilai iman yang telah diteladankan para pendahulu, pendeta, penatua, diaken, dan seluruh warga jemaat kepada generasi penerus.

Panitia juga ingin mempererat persatuan dan kebersamaan antarwarga jemaat lintas generasi, membangun semangat pelayanan berkelanjutan, serta menjadikan momentum satu abad sebagai bahan evaluasi dan refleksi terhadap perjalanan pelayanan jemaat.

“Perayaan ini juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara jemaat dengan pemerintah, Sinode, Klasis, dan seluruh masyarakat di lingkungan sekitar,” ujar Van Capelle.

Rangkaian perayaan telah dimulai pada 30 Agustus dengan penyambutan peserta dan undangan dari luar Kota Ambon.

Puncak Ibadah Syukur berlangsung pada 2 September di Gedung Gereja Emanuel. Selanjutnya, makan bersama akan dilaksanakan pada 3 September sebagai wujud persekutuan dan kebersamaan warga jemaat dan undangan.

Sementara acara penutupan dan kegiatan kebersamaan dijadwalkan berlangsung pada 4 September di kawasan Jembatan Merah Putih.

Van Capelle menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang memberikan dukungan bagi terselenggaranya perayaan tersebut, termasuk Pemerintah Provinsi Maluku, DPRD Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, DPRD Kota Ambon, warga jemaat, simpatisan, keluarga-keluarga, serta para donatur.

Menurutnya, dukungan dalam bentuk dana, tenaga, pikiran, dan doa menjadi bagian penting dalam menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.

Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, mengatakan peringatan satu abad tidak boleh hanya dimaknai sebagai pengingat terhadap sejarah terbentuknya sebuah jemaat.

Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana penyertaan Tuhan berlangsung dalam perjalanan kehidupan umat.

“Dalam perjalanan selama satu abad, tentu ada begitu banyak tantangan, persoalan, pergumulan, sukacita, dan pengalaman yang turut mewarnai perjalanan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil,” ujar Wattimena.

Namun, menurut dia, pemaknaan terhadap penyertaan Tuhan membuat umat terus bersyukur karena percaya bahwa Tuhan selalu bekerja dalam kehidupan manusia dan kehidupan berjemaat.

Wattimena mengatakan perjalanan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil hingga mencapai usia satu abad merupakan bagian dari sejarah yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

Ia juga menekankan pentingnya pelestarian adat istiadat, budaya, dan sejarah di Kota Ambon.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami perjalanan sejarah yang membentuk kehidupan Kota Ambon hingga saat ini.

Karena itu, perayaan satu abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil dinilainya sebagai contoh penting dalam upaya menjaga dan mewariskan sejarah kepada generasi berikutnya.

“Momentum-momentum sejarah seperti ini harus terus diperingati dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya,” katanya.

Wattimena juga mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan nilai persaudaraan Pela dan Gandong.

Secara khusus, ia mengajak warga Galala dan Hative Kecil untuk kembali menghidupkan semangat Panas Pela.

Menurut dia, nilai persaudaraan tidak boleh hanya menjadi cerita dari generasi ke generasi, tetapi harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat.

“Nilai-nilai itu harus menjadi sesuatu yang nyata, yang dapat dilihat, disaksikan, dirasakan, dan diwariskan kepada generasi-generasi kita,” ujarnya.

Atas nama Pemerintah Kota Ambon, Wattimena mengucapkan selamat atas perayaan satu abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil.

Ia berharap momentum tersebut semakin memperkokoh semangat persaudaraan dua negeri, satu jemaat.

Sementara itu,Ketua Sinode GPM, Pdt. Sacharias Izak Sapulette, S.Th., M.Si, mengatakan seratus tahun perjalanan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil bukan sekadar hitungan waktu.

“Seratus tahun adalah sejarah kasih setia Tuhan,” kata Sapulette.

Menurutnya, tepat pada 2 September 1926, Galala dan Hative Kecil dipersatukan menjadi satu tubuh, satu Jemaat Kristus.

“Kita menjadi saudara-saudari. Kita menjadi satu keluarga,” ujarnya.

Sapulette mengatakan perayaan satu abad menjadi kesempatan bagi jemaat untuk melihat kembali jejak penyertaan Tuhan dalam seluruh perjalanan kehidupan umat.

Ia menilai tema perayaan memiliki pesan penting bagi perjalanan jemaat ke depan, terutama terkait warisan iman, persatuan, dan pelayanan lintas generasi untuk kemuliaan Tuhan.

Ketiga hal tersebut, menurutnya, menjadi kekuatan yang membuat Jemaat GPM Galala-Hative Kecil mampu bertahan dan bertumbuh hingga memasuki abad baru.

Sapulette mengingatkan bahwa apa yang dinikmati generasi saat ini merupakan hasil dari iman, doa, pengorbanan, kesetiaan, dan perjuangan para pendahulu.

“Mereka telah meletakkan dasar. Mereka telah menjaga persekutuan. Mereka telah menyalakan obor iman. Dan hari ini, obor itu telah sampai kepada kita,” katanya.

Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan warisan iman tersebut kepada anak-anak dan cucu-cucu.

Menurutnya, pewarisan iman dari generasi tua kepada generasi muda harus terus dilakukan.

Generasi muda pun harus mengambil tanggung jawab untuk meneruskan pelayanan, kesaksian, dan persekutuan yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

“Pewarisan lintas generasi bukan sekadar semboyan. Pewarisan iman adalah sebuah tanggung jawab,” tegasnya.

Sapulette secara khusus meminta generasi muda agar tidak menganggap sejarah jemaat sebagai milik generasi terdahulu semata.

“Masa depan jemaat ini ada di tangan generasi hari ini,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh warga jemaat untuk terus mempererat persekutuan, saling mengasihi, menopang, dan mendoakan.

Perbedaan, kata dia, tidak boleh menjadi alasan untuk menciptakan jarak dan perpecahan.


Perayaan Satu Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil juga dirangkaikan dengan peresmian Prasasti 100 Tahun Galala-Hative dan Monumen 100 Tahun Galala-Hative.

Selain itu, dilakukan pula penyerahan Buku Satu Abad Jemaat Galala-Hative Kecil yang mendokumentasikan perjalanan sejarah, iman, dan pelayanan jemaat selama satu abad.

Prasasti, monumen, dan buku sejarah tersebut menjadi penanda perjalanan panjang Jemaat GPM Galala-Hative Kecil sekaligus sarana pewarisan sejarah kepada generasi penerus.

Perayaan satu abad ini menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang jemaat dibangun oleh iman, doa, pengorbanan, dan kesetiaan para pendahulu.

Kini, memasuki abad baru, tantangan generasi saat ini adalah menjaga persatuan serta memastikan obor iman yang telah diwariskan tetap menyala.

Satu abad telah dilalui. Sejarah telah diwariskan. Kini, masa depan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil berada di tangan generasi yang melanjutkan perjalanan iman tersebut

Tidak ada komentar