Satu Abad Jemaat Galala-Hative Kecil, Walikota Ajak Warga Rawat Iman dan Persaudaraan
Ambon, CahayaLensa.com - Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, mengajak seluruh warga Jemaat GPM Galala-Hative Kecil untuk menjadikan perayaan satu abad sebagai momentum melihat kembali perjalanan panjang serta penyertaan Tuhan dari generasi ke generasi.
Pesan tersebut disampaikan Wattimena dalam sekapur sirih pada Ibadah Syukur dan Perayaan Satu Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil yang berlangsung di Gereja Imanuel Gatik, Rabu (2/9/2026). Sore
Menurut Walikota, peringatan pertambahan usia sebuah persekutuan tidak semata-mata dimaknai sebagai pengingat terhadap sejarah berdirinya lembaga atau jemaat.
Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi kesempatan untuk merenungkan bagaimana Tuhan bekerja dan menyertai umat dalam seluruh perjalanan kehidupannya.
“Dalam perjalanan selama satu abad tentu ada begitu banyak tantangan, persoalan, pergumulan, sukacita dan pengalaman yang turut mewarnai perjalanan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil,” kata Bodewin.
Meski demikian, menurut dia, seluruh perjalanan tersebut patut disyukuri karena umat percaya Tuhan senantiasa bekerja dan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan jemaat.
Walikota juga menekankan pentingnya menjaga sejarah, adat istiadat dan nilai budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Kota Ambon.
Menurutnya, sejarah harus terus diwariskan agar generasi penerus memahami proses panjang yang telah membentuk kehidupan masyarakat dan persekutuan hingga saat ini.
“Momentum-momentum sejarah seperti ini harus terus diperingati dan diwariskan kepada generasi berikutnya, supaya anak cucu mengetahui bagaimana sebuah persekutuan dibangun, bagaimana para pendahulu berjuang, serta bagaimana Tuhan terus menolong dan menyertai umat-Nya,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan nilai persaudaraan Pela dan Gandong yang telah menjadi identitas dan kekuatan masyarakat Maluku.
Secara khusus, Bodewin mengajak masyarakat Galala dan Hative Kecil untuk kembali menghidupkan semangat Panas Pela sebagai wujud nyata persaudaraan antarmasyarakat.
Menurutnya, nilai persaudaraan tidak boleh hanya menjadi cerita yang diwariskan secara lisan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan diteruskan kepada generasi mendatang.
“Nilai-nilai itu harus menjadi sesuatu yang nyata, yang dapat dilihat, disaksikan, dirasakan dan diwariskan kepada generasi-generasi kita,” katanya.
Atas nama Pemerintah Kota Ambon, Wattimena menyampaikan selamat kepada seluruh warga Jemaat GPM Galala-Hative Kecil atas perjalanan pelayanan selama satu abad.
Ia berharap usia satu abad semakin memperkokoh semangat “Persaudaraan Dua Negeri, Satu Jemaat.”
Ia juga mengutip Mazmur 133 ayat 1 yang berbunyi, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.”
Sementara itu, Ketua Sinode GPM, Pdt. Sacharias Izak Sapulette, mengatakan seratus tahun perjalanan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil merupakan sejarah kasih setia Tuhan yang dialami dari generasi ke generasi.
Menurut Sapulette, pada 2 September 1926 terjadi peristiwa penting dalam perjalanan iman masyarakat Galala dan Hative Kecil ketika keduanya dipersatukan menjadi satu tubuh, yakni satu Jemaat Kristus.
“Kita menjadi saudara-saudari. Kita menjadi satu keluarga,” katanya.
Ia menegaskan, keluarga tersebut dibentuk bukan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk menyatakan kasih Kristus kepada dunia.
“Seratus tahun bukan sekadar hitungan waktu. Seratus tahun adalah sejarah kasih setia Tuhan,” ujar Sapulette.
Menurutnya, perjalanan panjang tersebut dilalui melalui berbagai perjuangan dan pergumulan, sukacita dan kesedihan, tangisan dan doa, serta ucapan syukur dari generasi ke generasi.
Karena itu, perayaan satu abad tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang masa lalu, tetapi menjadi kesempatan untuk melihat kembali jejak penyertaan Tuhan dalam perjalanan umat.
Sapulette mengatakan terdapat tiga warisan penting yang harus terus dijaga Jemaat GPM Galala-Hative Kecil dalam memasuki abad baru, yakni iman, persatuan dan pelayanan lintas generasi.
Apa yang dinikmati generasi saat ini, menurutnya, merupakan hasil dari iman, doa, pengorbanan, kesetiaan dan perjuangan para pendahulu.
“Mereka telah meletakkan dasar. Mereka telah menjaga persekutuan. Mereka telah menyalakan obor iman. Dan hari ini, obor itu telah sampai kepada kita,” katanya.
Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan warisan tersebut kepada anak-anak dan cucu-cucu pada masa mendatang.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung semakin cepat.
Menurutnya, perbedaan tidak boleh menjadi alasan bagi warga jemaat untuk saling menjauh.
“Pereratlah persekutuan di antara saudara-saudari. Saling mengasihilah seorang terhadap yang lain. Saling menopang dan saling mendoakan,” ujarnya.
Secara khusus, Sapulette meminta generasi muda untuk tidak memandang sejarah jemaat hanya sebagai milik generasi terdahulu.
“Masa depan jemaat ini ada di tangan generasi hari ini,” katanya.
Generasi muda, lanjutnya, harus mengambil tanggung jawab untuk meneruskan pelayanan, kesaksian dan persekutuan yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Momentum Ibadah Syukur Satu Abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil juga dirangkaikan dengan sejumlah kegiatan bersejarah.
Dalam kesempatan tersebut dilakukan peresmian Prasasti 100 Tahun Galala-Hative, yang dilanjutkan dengan peresmian Monumen 100 Tahun Galala-Hative.
Selain itu, dilakukan pula penyerahan Buku Satu Abad Jemaat Galala-Hative Kecil sebagai dokumentasi perjalanan sejarah, iman dan pelayanan jemaat selama seratus tahun.
Kehadiran prasasti, monumen dan buku sejarah tersebut diharapkan menjadi penanda perjalanan panjang jemaat sekaligus menjadi media pewarisan nilai iman dan sejarah kepada generasi penerus.


Tidak ada komentar